Posted by: Hartoto | 05/24/2016

Purnama Pertama

Satu purnama berlalu sejak Allah mempertemukan doa-doa baik kita dalam wujud terindrawi. Tidak banyak yang berubah kecuali kita saling belajar dan memantaskan diri kepada-Nya, Zat yang memberikan hadiah tak terduga pada kita.

Wahai perempuan pembaca – permata merah muda, mari kita simak kembali perjalanan si pemuda pekebun itu.

Memang benar, pemuda pekebun itu mulai memperkenalkan topologi tanah dan iklim bakal bunga itu bertumbuh sebagaimana pula yang engkau tulis dalam korespondensimu di purnama ini. Sebab itu memang biasa dilakukan pada pekebun-pekebun lain agar tanaman yang dipindahkan tidak shock sebab mendapati lingkungan yang kontras. Pemuda itu melakukan dengan caranya yang dianggap paling baik dan kita doakan saja semoga cara itu menjadi cara yang terbaik dalam hal ini. Pemuda itupun dibuat takjub karena si bunga begitu cepat belajar dan menyesuaikan diri. Namun sebaik-baik penyesuain diri tidaklah boleh menghilangkan jati diri si bunga. Bunga Mawar tetaplah harus menjadi mawar dimanapun dia berada. Adaptasi hanyalah cara agar bunga itu dapat bertumbuh dengan optimal di tempat yang baru. Daun-daunnya akan menghijau, berakar kuat sehingga tak mudah digoyah, batangnya semakin menjulang tinggi hingga bisa mengenali bumi tempat dia berpijak membuatnya semakin bijak, duri-durinya yang merupakan kodratnya tetap tumbuh dan nampak bila memang diperlukan namun tentu saja tidak akan melukai siapapun sebab ia akan pandai menempatkan diri. Dalam literatur ilmiah, duri merupakan salah satu alat perlindungan diri dari herbivora dan mungkin juga karnivora dan omnivora bagi tanaman-tanaman tertentu, termasuk bunga mawar. Namun pemuda itu sangat yakin duri si bunga mawar itu adalah hadiah dari Tuhan untuk menjaga kerhomatan dirinya, taman dimana ia bertumbuh, dan tentu juga bagi si pemuda pekebun. Si bunga akan merekah sempurna dan harum semerbak, membuat seisi taman bersukacita karenanya.

Namun ada yang ingin disampaikan dari si pemuda itu, taman impian sebagaimanapun indahnya tetaplah baru sebatas cita-cita. Pemuda itu tidak akan mampu mewujudkannya karena sekarang ada 3 pihak di dalamnya yakni pemuda itu, si bunga, dan taman bunga. Taman bunga dengan topologi, cuaca, yang fluktuatif sepertinya memerlukan tantangan besar untuk dikondisikan dengan spesifik sebab ada banyak variabel mempengaruhi yang saling terkait disana. Dan itu berarti tinggal dua tokoh sentral di dalamnya yaitu pemuda dan si bunga. Dan memang kisah ini akan banyak menampilkan pemuda dan si bunga. Semoga mereka dapat saling membelajarkan dan menyempurnakan, keduanya juga harus bertumbuh.

Sekali lagi, pemuda itu tidaklah sesempurna keinginannya untuk menyempurnakan bunga dan tamannya. Bantulah pemuda itu bagaimana menyempurnakan tamannya, bantulah pemuda itu untuk merawat si bunga agar ia dapat bertumbuh dan merekah sempurna.

Semoga masing-masing dapat cepat selesai dengan dirinya dan bergegas untuk berbagi manfaat bagi sesama… Dan baiknya kita memberikan kesempatan bagi si bunga merah jambu untuk berkisah bagaimana ia bisa bertumbuh optimal, apa saja keinginan dan cita-citanya, dan bagaimana harapannya kepada si pemuda pekebun itu.

Mari kita simak kisah berikutnya…

Jogjakarta, 24 Mei 2016


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: