Posted by: Hartoto | 03/28/2016

Sebuah Keputusan

Sebagaimana yang kutulis sebelumnya tentang Kisah Pemuda Pekebun Bunga. Ternyata sampai juga pesanku, perempuan pembaca. Dengan cukup apik engkau menuliskan pembacaanmu dan tafsir setiap simbol yang kuhidupkan. Engkau memang yang terhebat dalam hal ini, bahasamu sangat runtut dan logis sebagai hasil kemahiran berpikirmu yang sistematis.

Perlu kutegaskan, dirimu juga ada dalam kisah pemuda itu. Dalam ujung doa-doanya di tujuh waktu, ada namamu tersebut, paling tidak dalam 3 purnama terakhir.

Perempuan pembaca, pemuda itu sudah lama memperhatikan bunga di tepi jalan yang tumbuh di antara perdu-perdu itu, yang engkau sangkakan terabaikan dari manusia yang lalu lalang. Bahkan jika dirimu ingat kembali, ada banyak ikhtiar yang dilakukannya untuk memastikan bunga itu dapat bertumbuh di taman miliknya. Itulah mengapa ia selalu memintamu menyelesaikan urusan-urusan di kasir – untuk melihat detilmu. Itulah mengapa engkau terlibat dalam misi kecil hijab penikmat kopi – untuk melihat tanggung jawabmu mendidik dan menebarkan kebaikan. Itulah termasuk sebab ia pernah memintaimu dengan sejumlah besar lambang dunia – untuk melihat respon ikhlasmu dan kesenanganmu menolong sesama. Kecintaan pemuda itu pada Rabbnya membuat ia tidak kuasa menjamah, atau sekedar melihat dari jarak dekat hingga engkau benar-benar yakin dia melihatmu. Penikmat pelangi, Engkau tak memerlukan mata untuk mengetahui hal ini.

Keraguan pemuda itu adalah untuk memastikan kriteria yang digunakan untuk memilih bunga itu adalah kriteria yang benar, yang dituntunkan Zat Pemilik Hatinya. Ini mungkin yang engkau sebut sebagai keragu-raguan. Ya, dia memang ragu dengan dirinya, tapi bukan kepada bunga itu. Engkau tahu mata manusia sangat mudah tergoyahkan, pemuda itu hanya ingin memurnikan niatnya, lepas dari timbangan duniawi. Sedikit naif memang di zaman seperti ini, tapi begitulah keadaan pemuda itu.

“Wahai Zat Pemilik Cinta, Engkau tumbuhkan cinta di dada ini. Maka tunjukkanlah padaku dimana dapat kusemai cintaMu yang telah membumi ini”

Sebagaimana yang dikatakan pemuda itu, Sebelum berakhirnya musim penghujan, bunga itu sudah harus disemai agar dapat bertumbuh dengan subur dan siap menghadapi musim-musim kedepan. Maka ini adalah masa-masa itu. Ini adalah masa-masa akhir dimana pemuda itu harus memutuskan sesuatu yang perlu diputuskan, sebagai akhir pencariannya selama ini.

Begitu indah rencana Tuhan dengan segala pergumulannya. Sematang dan sedetail apapun yang direncanakan manusia tidaklah berdaya menghadapi skenario Tuhan. Gelombang-gelombang yang menerpa adalah bunga-bunganya perjuangan pencariannya. Pemuda itu boleh ragu pada pilihan-pilihannya, namun sekali sudah diputuskan, tidak ada lagi ruang bagi keraguan dan masa lalu.

Setelah doa-doa dan restu terkumpul, maka dengan mengharapkan keridhaan Rabb penguasa seluruh Alam, akan diputuskan…. tidak lama lagi

Yogyakarta, 28 Maret 2016


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: