Posted by: Hartoto | 03/11/2016

Kisah Pemuda Pekebun Bunga

Alkisah, ada seorang pemuda memiliki sepetak tanah kesayangan yang merupakan satu-satunya lahan yang dia miliki. Untuk menjaganya, dibuatlah pagar di sekelilingnya dengan penuh kesungguhan hati. Hari demi hari, bulan berganti bulan, disusunlah pagar itu. Dipilih jenis kayu terbaik yang ia ketahui. Ia tak malu bertanya ke orang-orang mengenai hal tersebut untuk menambah referensi dan keyakinannya. Kayu yang kokoh agar tidak mudah digoyah terpaan angin, ataupun sekedar hujan gerimis. Meskipun pagarnya belum begitu sempurna, ia berkeyakinan sudah waktunya untuk ditanami. Dan ia akan menjadikan petak tanah miliknya menjadi taman bunga – meski hanya untuk satu bunga.

Bunga yang akan dirawatnya dengan ketulusan hatinya, sepenuh hatinya. Sepertinya di dada pemuda itu ada cinta tak terbendung yang semakin lama semakin menggulung dan siap dicurahkan pada taman bunga itu. Namun jangan salah, kecintaannya pada bunga bukanlah sebab pada bunga itu semata. Dia berusaha menggantungkan segala cinta, hidup, dan kesahnya pada Rabb-nya – sang penguasa hatinya. Rabbnya begitu cinta keindahan, dan pemuda itu mengartikannya sebagai taman bunga. Taman yang bertumbuh di dalamnya bunga yang semakin menumbuhkan kecintaannya pada Rabbnya. Meski pemuda itu tak begitu tahu apa arti cinta, ia hanya ingin menjadikan bunga itu terus bertumbuh, bertumbuh, mencapai puncak tertinggi keindahan bunga – sambil ia juga berusaha untuk bertumbuh.

Namun hanya ada satu bunga yang disiapkan untuk sepetak taman itu…

Namun tidak semua bunga yang dapat bertumbuh sempurna di taman itu…

Pemuda itu kemudian diperhadapkan dengan pilihan-pilihan. Setelah berbulan-bulan dia mencari-cari bunga yang tepat untuk tamannya itu. Ia baru bisa menentukan kriterianya:

  1. Bunga itu dapat bertumbuh, merawat dirinya agar mencapai kesempurnaan hakikat bunga. Bunga itu dapat mendekatkan orang-orang yang berada di sekitarnya pada kecintaan Rabb-nya. Harumnya semerbak menghiasi taman-taman surga.
  2. Topologi tanah petaknya beragam, di sebagian sisinya ada cadas dan sedikit tandus. Jadi diperlukan bunga berakar kuat, mampu membagi keteduhan pada tanaman disekitarnya.
  3. Meskipun seluruh perhatian pemuda itu hanya pada bunga itu, namun panggilan jiwanya adalah berbagi manfaat dengan sesama di pelosok negeri sehingga tak setiap saat ia bisa berada di taman itu menyaksikan bunga itu bertumbuh, merekah, dan berpijah. Namun pemuda itu sangat berharap bunga itu akan juga membersamainya kemana saja ia pergi ke seluruh pelosok negeri.

Tidak ada yang membuat pemuda pekebun itu bahagia melainkan kecintaannya pada Rabbnya, dan keseluruhan cintanya, perhatiannya atas dasar kecintaannya pada Zat Pemilik Cinta. Kita tidak akan bisa menemukan kebingungan di mata pemuda itu, bahkan jika kita mengikutinya sepanjang hari. Ia tetap menjadi pemuda yang tenang dan sesekali mencanda teman-temannya. Sepertinya dia orang yang tak pernah memiliki masalah. Namun engkau akan sangat terkejut ketika mendapatinya menjadi sosok yang begitu rapuh di sepertiga malam. Begitu lirih menyayat dalam ujung doa-doanya. Bersimpuh tak berdaya di depan Rabbnya. Inilah jati dirinya yang begitu lemah di hadapan Rabbnya. Seorang dungu yang bahkan tak dapat memimpin dirinya sendiri. Namun padanya ada keyakinan, dia akan bertumbuh bersama taman dan bunganya itu.

Berharap ada petunjuk bunga mana yang akan ditanam di taman miliknya itu. Dia sendiri begitu lemah untuk memutuskan hingga pada suatu ketika ia menyadari musim penghujan akan segera berakhir. Itu berarti dia akan pergi ke tempat lain menunaikan panggilan hidupnya, sementara tamannya belum ditanami.

Sebelum berakhirnya musim penghujan, harusnya dia sudah memutuskan bunga mana yang akan dibibitkan agar pelangi dapat turut menyaksikan bunga itu bertumbuh dengan sempurna, dan telah siap pada musim-musim yang semakin sulit diprediksi.

Yogyakarta, 11 Maret 2016


Responses

  1. […] yang kutulis sebelumnya tentang Kisah Pemuda Pekebun Bunga. Ternyata sampai juga pesanku, perempuan pembaca. Dengan cukup apik engkau menuliskan pembacaanmu […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: