Posted by: Hartoto | 06/10/2015

Kita Adalah Generasi Idiot : Telepon Pintar dan Manusia bodoh

Saya memiliki 422 orang teman, tetapi saya kesepian. Saya berbicara dengan mereka setiap hari, namun tak satupun yang mengenal saya.

LOOK UP. Lihatlah Ke Atas
Masalah yang saya alami ialah adanya perbedaan antara menatap mata lawan bicara atau hanya melihat nama orang di layar. Saya melangkah mundur menatap mata saya melihat sekeliling dan menyadari bahwa media yang kita sebut “sosial” ini memang segalanya, namun ketika kita membuka komputer kita, saat itulah kita menutup pintu kita.

Semua teknologi yang kita miliki ini hanyalah subuah ilusi. Komunitas, persahabatan, rasa kebersamaan. Ketika kamu beranjak dari perangkat khayalan ini, kamu tersadar dan melihat dunia yang membingungkan. Dunia dimana kita diperbudak oleh teknologi yang kita ciptakan, dimana informasi dijual oleh orang-orang kaya rakus.
Dunia yang dipenuhi kepentingan pribadi, pencitraan, promosi diri. Dimana kita memberikan bagian terbaik kita tanpa menggunakan perasaan.

Kita merasa paling berbahagia ketika kita berbagi pengalaman. Akankah sama rasanya bila tidak ada orang lain? Datangi teman-temanmu dan mereka akan mendatangimu. Mereka takkan mendatangimu bila kau temui mereka di group message. Kita selalu membanggakan diri dan mengharapkan pujian. Kita pura-pura tidak menyadari bahwa kita terasing secara sosial, Kita merangkai kata hingga terlihat hidup kita indah. Padahal kita tidak tahu apakah ada yang peduli.

Sendirian bukanlah masalah, itulah intinya.

Bila kamu membaca buku, melukis atau melakukan latihan tertentu, kamu menjadi produktif dan diakui, buka hanya menjadi pelengkap. Kamu sadar sepenuhnya dan penuh perhatian dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Jadi, ketika kamu berada di tempat umum dan merasa kesepian, angkat tanganu dan jauhkan dari telepon. Kamu tidak membutuhkannya kan? Bila perlu hapus daftar kontakmu. Saling berbicaralah, belajar hidup bersama.

Saya tidak tahan melihat keheningan dalam angkutan yang penuh sesak. Dimana tak seorangpun ingin berbicara karena takut dibilang aneh. Kita menjadi anti sosial, bila tidak lagi terpuaskan dengan hubungan antar manusia dan saling bertatap mata. Kita dikelilingi oleh anak-anak yang sejak mereka dilahirkan melihat kita hidup seperti robot, dan mereka menganggap itu normal.

Sepertinya mustahil untuk menjadi orangtua hebat, karena kamu tidak bisa menghibur anak tanpa menggunakan iPad.

Saat saya kecil, saya tidak pernah di rumah, selalu keluar bersepeda bersama teman-teman. Sepatu saya sobek dan lutut saya tergores, karena membangun rumah di atas pohon. Sekarang taman sangat sunyi dan sepi, tak ada anak-anak yang bermain dan ayunanpun tak pernah bergerak. Tak ada yang bermain, berlari dan meloncat.

Kita adalah generasi idiot : Telepon pintar dan Manusia bodoh.

Jadi alihkan perhatian dari teleponmu matikan layarnya. Hidupkan lingkungan sekitarmu, ciptakan hari yang indah. Cukup satu hubungan nyata – hanya itu yang dibutuhkan untuk menunjukkan perbedaan yang diciptakan oleh kehadiran. Hadir saat dia memandangmu, yang akan kamu ingat selamanya saat dimabuk cinta saat pertama dia memegang tanganmu, atau ciuman pertama di bibirmu.

Saat pertama kali kamu berbeda pendapat, namun tetap mencintainya sepenuh hati. Saat dimana kamu tidak harus menceritakan ratusan hal yang sudah kamu kerjakan, karena kamu hanya ingin menikmati waktu bersamanya. Saat kamu menjual komputermu supaya bisa membeli cincin untuk gadis impianmu yang sekarang menjadi nyata. Saat dimana kamu ingin memulai satu keluarga dan pertama kali memegang tangan gadis kecilmu dan jatuh cinta lagi. Saat dia selalu membuatmu terjaga kala kamu benar-benar ingin istirahat dan saat kamu menghapus air matamu ketika anakmu meninggalkan rumah. Saat gadis kecilmu kembali dengan membawa bayi untuk kau gendong dan saat dia memanggilmu kakek hingga kamu merasa tua. Saat kamu mendapatkan semua yang telah kamu ciptakan dengan memberikan perhatian yang nyata betapa bahagianya kamu karena tidak menyia-nyiakan waktu, hanya bermain dalam dunia khayal.
Saat kamu memegang tangan istrimu, duduk di samping tempat tidurnya, kamu bilang bahwa kamu menyayanginya, lalu mencium keningnya. Kemudian dia berbisik padamu di saat-saat terakhirnya, bahwa dia sangat beruntung menemukan dirimu.

Tapi semua itu tidak akan pernah terjadi, kamu tidak akan pernah mengalami satupun hal itu. Bila kamu terlalu sibuk melihat ke bawah, kamu akan melewatkan berbagai kesempatan.

Jadi alihkan perhatian dari teleponmu, matikan semua layar itu. Waktu kita sangat terbatas. Jangan buat hidupmu dengan berkutat di internet. Karena bila saatnya tiba, yang ada hanya penyesalan.

Sayapun merasa bersalah dengan menjadi bagian dari ini semua. Dunia digital yang kita dengar tapi tidak terlihat. Dimana kita berbicara dengan mengetik dan mengobrol dengan cara membaca. Di mana kita menghabiskan waktu bersama tanpa saling bertatap mata.

Janganlah kau masuk dalam kehidupan yang mengikuti publisitas berlebihan. Berikan orang rasa cinta dan perhatianmu. Jangan beri mereka “like” mu. Jauhkan keinginan untuk didengar dan diakui. Keluarlah ke dunia nyata dan tinggalkan semua itu.

Alihkan perhatian dari teleponmu, matikan layarnya. Hentikan menonton video ini dan jalani kehidupan secara nyata.

Redaksi saya tulis ulang dari https://www.youtube.com/watch?v=_iQOXJaf4yU Karya Gary Turk (@Gary_Turk) . Pertama kali ditunjukkan oleh Prof. Rhenald Khasali, PHd di Rumah Perubahan, Bekasi Mei 2015.

 


Responses

  1. mantep…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: