Posted by: Hartoto | 03/17/2013

Pemasangan Perangkat di Sinjai

Hiruk pikuk politik sudah terasa ketika saya memasuki kota ini. Namun itu bukan dari saya, bukan juga anti politik tapi saya agak jenuh. Apalagi media selalu menjejali berita-berita serupa yang saya sendiri meragukan objektivitasnya. Kedatangan saya ke Sinjai (9 Maret 2013) kali ini karena ajakan salah seorang client saya. Ada perangkatnya yang mau di pindah ke daerah itu dan sepertinya membutuhkan saya. Saya memang sudah dikontak 2 minggu sebelumnya untuk mencocokkan jadwal. Maklum lah, lelaki panggilan🙂. Dan baru kali ini ketemu waktu yang pas. Itupun saya hanya istirahat sehari setelah dari Jakarta.

Kami berangkat pukul 2 siang, saya terpaksa tinggalkan rapat dengan teman-teman HIPMI-PT di Lamacca (hotel milik Universitas Negeri Makassar). Sampai disana langsung pasang, kira-kira setengah jam selesai. Stelah itu makan malam di seafood di pinggir laut. Saya lupa nama tempatnya. Pokoknya enak pisan…. Dari sana kami menginap dan paginya (10 Maret 2013) kembali ke Makassar.

Oh iya, hampir lupa. Ada yang berkesan. Ini soal rumah makan Mandiri yang ada di Camba, maros. Rumah makan ini selalu ramai meski menu andalannya hanya mie instan. Ini menjadi tempat rehat bagi orang-orang dari makassar yang ke bone, sinjai, dan daerah sekitarnya. Saya sempat penasaran. Apa ya rahasianya? Kalau pelayanan, yah lumayan cepat. PArkir? yah lumayan luas juga menampung banyak mobil. Menu? biasa saja, mie rebus, mie goreng, akstrajos susu. Harga? Standar lah. Jadi apanya ya…

Menurut saya karena rumah makan mandiri ini merupakan perintis rumah makan yang ada di sekitar sini. Rumah makan ini katanya sudah ada sejak dulu dan dikenal masyarakat. Kemudian menu yang disajikan memang sesuai dengan kebutuhan para konsumen. Mie itu solusi tepat supaya tidak terlalu kenyang di jalan. Pengendara itu kalau terlalu kenyang dikhawatirkan akan ngantuk. Jadi mie solusinya. Kemudian ada tempat shalat yang sangat memadai, kamar kecil yang banyak dan bersih. Itu nilai point sendiri. Terus ramenya itu mengundang simpati orang-orang yang lewat. Memang keramaian menjadi tolok ukur bagi calon pelanggan untuk singgah di tempat makan. Bahkan semakin antri, sensasinya semakin besar.

Namun ada satu yang saya khawatirkan, rumah makan ini (mandiri), jika tidak berinovasi dengan menu dan layanan kedepannya akan bahaya. Bisa saja ada investor besar yang membuka rumah makan disana dengan standar layanan mirip KFC. Habis sudah… meskipun sekrang rumah makan mandiri masih sebagai pemegang kendali karena monopoli alami. Tapi suatu saat pasti akan ada saingannya. Ayo, rumah makan mandiri. Berinovasilah sebelum pesaingmu datang dan mengambil calon pelangganmu….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: