Posted by: Hartoto | 03/17/2013

Namanya Khadijah Khairunnisa

Dipanggil ijha atau kadang icha. Tapi nama lengkapnya Khadijah Khairunnisa Hasyim. Dia adalah teman sekolah di SMAN 2 Makassar dulu. Di kelas 1-2, tempat duduknya 2 meja di depan saya. Di kelas 2-2, dia di depan saya. Di kelas 3IPA2, di depan saya juga. Bukan karena apa, saya memang tidak suka duduk di meja paling depan. Tempat favorit saya adalah meja kedua dari depan pass di dekatnya meja guru. Alasannya simpel, saya tidak mau ditunjuk duluan dan kalau di seberang lain tentunya saya akan terpancing untuk main-main. Jadi meja kedua adalah tempat yang paling strategis. Tidak terlalu ‘menegangkan’, tidak pula terlalu ‘menyantaikan’.

Hari ini (17 Maret 2013) Ijha walimah/menikah dan saya tidak sempat datang karena sesuatu hal. Padahal saya rencana mau sekalian reunian dengan teman-teman kelas. Soalnya lama tidak ketemu. Untuk ijha sendiri sejak 2006 saya tidak ketemu. Yah, sudah 7 tahun. Saya turut senang karena akhirnya teman-teman saya bisa ke jenjang kehidupan beikutnya. Yang saya tahu yang sudah married itu si Chida, Vivi, Indri, dan novita sari. SMS undangan itu saya terima dari QQ, salah satu murid cerdas di kelas meski sedikit loading. Tapi terakhir QQ saya lihat lebih dewasa🙂. QQ mengatasnamakan PERSADA. Hemmm… lama saya ndak dengar istilah itu. Persada adalah nama kelas yang kami pakai. Persada itu singkatan dari “Persatuan Satu Dua”, sesuai nama kelas kami. kelas 1-2. Ada lagi istilah “Duren”, ini arief dan kawan-kawan pencetusnya. Singkatan dari “Dua-Dua Keren”.

Postingan ini saya untuk kembali mengenang saat-saat SMA dan juga tentang Ijha.

Ijha, anak smada dengan NIM 0319625 (saya masih ingat karena dulu kelas 1 dan 2 saya ketua kelas:) ) merupakan pribadi yang menurut saya kepribadiannya sederhana. Meskipun termasuk anak tajir, di sekolah tidak pernah menunjukkan sesuatu yang mencolok. Dalam bergaul pun tidak terlalu memilih-milih teman. Setahu saya dulu dia 3 bersaudara, dia yang paling tua. Terus ada adiknya perempuan yang mukanya hampir mirip dan yang paling kecil laki-laki.

Ijha orangnya baik sekali. Aktif di organisasi paski dan sempat menjadi pengurus inti. Saya kenal pertama kali orangnya (belum namanya) waktu di MOS, dia pernah dihukum dan maju ke depan (waktu itu pelataran masjid baiturrauf, tempat mos) dan disuruh nyanyi. Ijha dulu sempat aktif juga di KIR (kelompok ilmiah remaja) meski akhirnya di kelas dua lebih aktif di paski. Orangnya pintar. Sering curhat ke guru BK (saya lupa namanya si Ibu, ya Allah maafkan saya). Guru favoritnya bu Liliek Supangatin (karena pembawaannya yang tenang dan wajahnya adem, kharismatik) dan Pak Naja (karena coolnya).

Teman jalannya waktu kelas satu dengan Andi Sugiratu Latinro (di kelas 3 dia di IPA1) . Dengan Diah yang akhirnya pindah ke Jawa karena Bapaknya dimutasi gara-gara insiden umi berdarah. Yah, namanya pimpinan harus bertanggung jawab terhadap anak buahnya yang “nakal” meski saya yakin beliau tidak bersalah. Sugi dan Diah itu dulu waktu kelas satu saya lihat sering jalan sama Ijha. Mereka bertiga periang. Apalagi sugi, yang sangat detil kalau cerita. Bahkan tidak pakai pause. Pausenya pake spasi karena terlalu cepat🙂.. Kami terkadang tidak bisa menyimak dengan seksama sangking cepatnya. Sugi.sugi, dimana kamu sekarang?🙂

Masih soal Ijha… dia dulu saring kasih saya kertas-kertas note untuk cakaran. Ijha bilang di rumahnya banyak yang begituan. Kertas itu sangat kami butuhkan untuk cakaran.Ijha juga sempat ke rumah dulu. Tapi uniknya dari datang sampai pulang tidak putus teleponnya. Yah namanya dulu ABG SMA. nda tahu siapa yang dia telepon waktu itu. Saya lupa ke rumah dulu ambil tugas atau flash disk. Flash disk kayaknya🙂. Saya agak lupa. Tapi itu yang lucu. Saking sibuknya nelpon sampai bertamu, tuan rumahnya di cuekin. He..he..he. ijha..ijha.

Kami dulu di SMA suka nyontek, tapi nyonteknya ndak kayak anak-anak sekarang. Dulu kami nyontek tidak di telan bulat-bulat. Kami berpikir dulu. Hasil contekan hanya dijadikan pembanding dan clue untuk kerjakan jawabannya. Kecuali waktunya mepet🙂. Tapi kalau nyontek, kami daulu masih sempat tanya kok bisa begini, rumus ini diturunkan dari mana? Nah itu kan tandanya mikir juga toh? Bahkan kadang saya malah baru mengerti pada waktu ujian. Yah, karena nyontek itu tadi. Otak jadi kerja lebih keras menemukan caranya. Disitu baru dibilang belajar sungguh-sungguh. Kalau ujian kami menggunakan sistem barter. Teman-teman keahliannya beda-beda. Firman di Kimia, Makrifah di Biologi, QQ kalau tidak salah di Matematika, saya dapat jatah Fisika, Odhie di Bahasa Inggris. Nah, ijha juga lumayan jago di Bahasa Inggris. Asrul sebagai transporter. Di biasanya di tengah sebagai pusat jawaban berkumpul, dia juga yang sebar ke anak-anak. Semua sistematis dan itu tadi, tidak asal nyontek. Yang terima jawaban akan komplain kalau jawabannya tidak logis. Jadi sebenarnya ini bukan juga dibilang nyontek, lebih tepatnya kerjasama dalam ujian :)….. he.he.he

Masih banyak sebenarnya yang saya mau ceritakan soal Ijha, dan mungkin juga akan saya rilis teman-teman yang lainnya. Tapi saya ada kegiatan lain, postingan ini saya cukupkan sampai disini. Dan saya ingin mengucapkan “Selamat menempuh Hidup Baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah, warohmah. Cepat dikasih momongan”. Maafkan saya tidak sempat hadir di acaramu……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: