Posted by: Hartoto | 10/24/2009

Kegelisahan Sang Guru

Umar Ibsal – Setelah ditunggu selama tiga tahun, Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru (PP No.74/2008) akhirnya disahkan pada 1 Desember 2008. Terbitnya PP tersebut merupakan tindak lanjut dari pengesahan Undang- Undang No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD No.14/2005). PP No.74/2008 memuat 9 bab yang terdiri dari 68 pasal yang mengatur tentang kompetensi dan sertifikasi guru, hak guru, beban kerja guru, wajib kerja dan pola ikatan dinas bagi guru, pengangkatan, penempatan dan pemindahan guru, sanksi serta ketentuan peralihan.

Pengesahan PP No.74/2008  memulai babak baru pendidikan profesi guru di tanah air. Salah satu pasal yang paling banyak disoroti adalah Pasal 4 ayat (2) yang menyebutkan bahwa untuk mengikuti pendidikan profesi guru, calon guru minimal berkualifikasi S1/D IV, baik yang berasal dari perguruan tinggi kependidikan maupun nonkependidikan.

Dari pasal tersebut terlihat bahwa alumni perguruan tinggi dengan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) masih harus menjalani Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk menjadi guru dan mendapatkan sertifikat pendidik. Begitu pula alumni  perguruan tinggi nonkependidikan dari berbagai latar belakang keilmuan dapat  mengikuti PPG jika ingin berprofesi sebagai guru. Lisensi mengajar dengan mengantongi sertifikat Akta IV bagi alumni perguruan tinggi non kependidikan sudah tidak berlaku lagi. Begitu pula bagi sarjana pendidikan, gelar S.Pd bukan lagi menjadi jaminan kompetensi calon guru dalam mengajar.

Keterbatasan ”Lahan kerja” Sarjana Pendidikan

Keharusan calon guru yang telah berpredikat sarjana pendidikan untuk menempuh kembali pendidikan profesi guru menyisakan kegelisahan di benak calon sarjana pendidikan, termasuk penulis. Cita-cita untuk menjadi guru dengan mengambil program studi kependidikan kembali harus kandas dengan adanya aturan PPG.

Gelar sebagai sarjana pendidikan yang diraih dengan susah payah selama bertahun-tahun dari  kampus ternyata tidak cukup untuk mewujudkan impiannya menjadi guru sebagaimana awalnya mereka mendaftar di perguruan tinggi. Sebaliknya bagi alumni perguruan tinggi non kependidikan dengan gelar  sarjana murni, mereka dapat melamar pekerjaan di perusahaan dan ketika tidak diterima di perusahaan, mereka dapat saja mengambil jalan alternatif dengan mengikuti PPG untuk menjadi guru. Tentunya sambil melamar pekerjaan di perusahaan lain dengan ”menjual” gelar sarjana murninya. Hal ini membuat lahan kerja S.Pd semakin sempit dan sebaliknya alumni non kependidikan justru semakin luas.

Kondisi tersebut akan mendorong alumni SMA dan sederajat untuk lebih memilih kuliah di perguruan tinggi non kependidikan daripada kuliah  untuk meraih gelar sarjana pendidikan. Alasannya karena pangsa pasar alumni Non pendidikan lebih luas dan lebih prospektif dibandingkan program studi kependidikan. Akhirnya perguruan tinggi kependidikan akan kekurangan peminat dan mungkin saja akan “gulung tikar”.

Kehilangan Kepercayaan

Kegelisahan calon sarjana pendidikan akan semakin bertambah ketika kita merujuk pasal 7 ayat (2) PP NO.74/2008 yang menyatakan bahwa Bobot muatan belajar PPG disesuaikan dengan latar belakang pendidikan sebagai berikut: a. untuk lulusan program S-1 atau D-IV kependidikan dititikberatkan pada penguatan kompetensi profesional; dan b. untuk lulusan program S-1 atau D-IV nonkependidikan dititikberatkan pada pengembangan kompetensi pedagogik.

Ini berarti bahwa sarjana pendidikan yang mengikuti PPG kembali harus belajar tentang materi kompetensi profesional sesuai dengan bidang studi yang diampunya. Sedangkan bagi sarjana non kependidikan sudah dianggap profesional dalam materi bidang studi yang diampunya, tinggal melanjutkannya dengan materi pedagogik (keguruan) selama setahun.

Hal tersebut memberikan makna secara implisit bahwa pemerintah melalui PP No.74/2008 masih meragukan kualitas keilmuan alumni perguruan tinggi kependidikan dengan gelar sarjana pendidikan yang disandangya. Kompetensi bidang studi yang telah dipelajari di kampus ternyata tidak lantas membuat mereka dikatakan profesional. Ini berarti bahwa selama ini perguruan tinggi kependidikan dinilai gagal melahirkan calon pendidik yang bermutu. Perguruan tinggi yang mengelola program studi kependidikan telah kehilangan kepercayaan dari pemerintah melalui produk sarjana pendidikannya.

Mutu Calon Guru

Umasih (2008) mengatakan bahwa sudah bukan rahasia umum, semua perguruan tinggi kependidikan  hanya mendapatkan calon mahasiswa yang ditolak oleh lembaga pendidikan tinggi yang lain, pilihan untuk berprofesi sebagai guru pada umumnya adalah pilihan terakhir. Persiapan yang diberikan untuk menjadi tenaga profesional cenderung hanya sedang-sedang saja, mahasiswa tidak dibimbing untuk memahami secara mendalam mata pelajaran yang akan diajarkan.

Meskipun penelitian dilakukan oleh mahasiswa, tetapi lebih merupakan ritual yang harus dilakukan tanpa diberi pemahaman untuk apa data tersebut. Artinya PT kependidikan telah mempersiapkan mahasiswa para calon guru secara tidak kompeten. Bahkan mantan Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Malik Fajar (2003) mengatakan bahwa lulusan perguruan tinggi kependidikan dipandang lebih rendah daripada lulusan perguruan tinggi non kependidikan. Prof. Djohan & Prof Winarno (Kompas, 18/10/2004) mengungkapkan bahwa calon guru tidak profesional disebabkan karena banyak mahasiswa FKIP atau universitas pendidikan penghasil guru tidak sungguh menguasai materi. Hal ini disebabkan salah satunya oleh mutu intetelektualitas calon guru yang relatif lebih rendah dari yang non kependidikan.

Penerapan aturan PPG seharusnya  menjadi “lampu kuning” bagi perguruan tinggi yang membuka program kependidikan untuk menginstropeksi pola penyiapan calon pendidik profesional di institusinya. Jika hal ini tidak segera dilakukan, maka tunggu saja “ledakan” pengangguran yang dihasilkan oleh perguruan tinggi kependidikan.

Penulis adalah Dewan Pendamping Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) PENALARAN Universitas Negeri Makassar

Download Lengkap : KEGELISAHAN CALON SARJANA PENDIDIKAN


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: