Posted by: Hartoto | 10/20/2009

Disorientasi Ospek

Umar Ibsal – Pasca pengumuman kelulusan calon mahasiswa baru (maba) di perguruan tinggi, calon (maba) akan dihadapkan pada masa orientasi kampus yang dikenal dengan OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus). Mendengar nama ospek, pembaca akan memberikan opini beragam mengenai Ospek. Push up, kengkreng, berguling, hingga kenangan yang lucu dan tidak masuk akal terlintas di benak penulis dan para pembaca yang pernah mengalaminya.

Berita tentang calon maba yang cedera karena ospek sudah lumrah terjadi dari tahun ke tahun, patah tulang hingga korban meninggal dunia terjadi di beberapa kampus. Tema mentereng ospek seakan hanya menjadi label yang kontraproduktif dengan tindakan abnormal yang dilakukan sang senior. Tema religius, ilimiah, kritis, rasional, analitis, sistematis, kreatif, inovatif, integritas, revolusioner, salodaritas, dan berbagai istilah ilmiah tingkat tinggi menghiasi spanduk-spanduk selamat datang bagi calon maba. Kebanggaan menjadi mahasiswa baru di perguruan tinggi idaman seakan menjadi buyar seketika tatkala mereka (maba) menyaksikan dan mengalami tindakan kekerasan yang dipertontonkan seniornya.

Tendangan seribu bayangan serta “bogem mentah” menjadi menu sarapan subuh dan “pencuci mulut” setelah makan siang. Kepala plontos dengan model huruf tertentu menjadi pemandangan aneh sekaligus lucu sebagai bahan tertawaan para senior kepada adiknya. Model pakaian yang aneh dengan kaos kaki dan sepatu berwarna-warni bak seorang pendekar menjadi pakaian “dinas” maba selama menjalani masa-masa mendebarkan itu.

Makna Ospek

Dilihat dari namanya, ospek merupakan kegiatan yang mempunyai tujuan yang sangat berguna bagi maba, seperti mengenal lingkungan kampus, sistem administrasi akademik, fasilitas laboratorium, pejabat kampus, maupun menjalin keakraban dengan kakak tingkat.  Konselor Gerald Corey (2001) mengatakan bahwa manusia tanpa orientasi ibarat orang menerbangkan pesawat terbang tanpa peta dan tanpa instrumen. Tanpa mengikuti Ospek, maba diibaratkan tidak mempunyai panduan dan gambaran awal mengenai kampusnya.

Ospek juga dijadikan sebagai momentum untuk melakukan transfer nilai-nilai kemahasiswaan pada maba sebagai generasi penerus gerakan kemahasiswaan. Idealnya, Ospek merupakan gerbang (gateway) yang diharapkan dapat mengubah paradigma maba yang sebelumnya berstatus siswa menjadi maha-siswa, mengikis budaya hura-hura (hedonistik), individualistik, serta pemupusan mental “kerupuk”. Dengan demikian, akan muncul bibit-bibit unggul yang cerdas, militan dan berani dengan bekal intelektualitas dan spiritualitas.

Ekses Ospek

Namun, praktik kekerasan yang kerap terjadi membuat  ospek itu terdeviasi dari tujuan mulianya. Kekerasan fisik dan psikologis justru menjadi malapetaka bagi maba di kampus idamannya. Intimidasi (bullying) yang gencar dilakukan oleh senior memberikan efek buruk bagi mahasiswa baru. Gambary Namie tahun 2003 mensurvei 1.000 responden sukarela yang hasilnya dipublikasikan pada bullyinginstitute.com. Disimpulkan ada 33 jenis gejala gangguan kesehatan yang dialami orang-orang yang pernah di-bully. Diantaranya , (1) ketakutan, stres, kecemasan berlebihan (76 persen); (2) selalu teringat pengalaman buruk, mimpi buruk (49 persen); (3) Kebutuhan untuk menghindarkan perasan, pikiran, dan situasi yang mengingatkan orang itu terhadap trauma (47 persen); (4) depresi yang terdeteksi (39 persen); (5) menggunakan bahan adiktif untuk menenangkan pikiran (28 persen); (6) berpikir kekerasan kepada orang lain (25 persen); (7) Pikiran bunuh diri (25 persen); (kompas, 17/11/2007).

Jika fenomena tersebut terus terjadi, maka ospek akan terus menjadi momentum untuk melanggengkan kekerasan yang akan menjadi warisan bagi maba berikutnya sehingga mengkristal menjadi spiral kekerasan. Kekerasan kampus yang tereskalasi menjadi tawuran mahasiswa bukan tidak mungkin berawal dari indoktrinasi yang dilakukan senior kepada yuniornya. Solidaritas parsial dengan mengedepankan egoisme sektoral di fakultas yang cenderung destruktif menjadi biang tawuran kampus yang sering terjadi.

Upaya Solutif

Menjelang dan selama ospek, sekretariat LK akan ramai pada waktu pemilihan panitia ospek, bukan karena ada kegiatan lembaga, tapi momen “cari muka“ untuk jadi panitia Ospek. Kepanitiaan Ospek yang dilegalisasi oleh Lembaga Kemahasiswaan (LK) menjadi pertaruhan reputasi LK. Ketika tindakan kriminalitas dilakukan oleh panitia, maka yang bertanggung jawab adalah pengurus LK. Oleh karena itu, ketegasan birokrasi dan pengurus LK dalam mengawal ospek menjadi harga mati. Jangan sampai “nila setitik merusak susu sebelanga”, ada oknum yang bermain di belakang layar dan mengatasnamakan LK sehingga membuat maba trauma dengan aktifitas LK. Pemilihan panitia ospek tidak boleh serampangan karena transformasi ilmu dari kakak tingkat ke adik penerus menjadi esensi dari ospek.

Kekerasan sebaiknya dihindari dengan melakukan kontrak tertulis dengan panitia jika melanggar butir-butir perjanjian. Pengalaman penulis dengan memberikan kontrak terulis kepada panitia dimana ketika senior melakukan pelanggaran, sanksi akademik langsung dijatuhkan oleh Komisi Disiplin Fakultas kepada senior yang bersangkutan tanpa adanya pembelaan  dari LK. Dengan demikian akan muncul efek jera bagi senior yang terlibat dan yang mencoba melakukan kekerasan. Tak dapat dipungkiri, banyak diantara pelaku kekerasan ospek yang berlindung di bawah legitimasi LK. Ketika mereka melakukan kekerasan pada maba, maka LK menjadi tumbalnya.

Senior yang tidak terlibat dalam panitia Ospek juga perlu dilibatkan. Berdasarkan pengalaman penulis, kekerasan pada maba justru lebih banyak terjadi karena mereka yang tidak masuk panitia ospek juga ingin mengambil “bagian” sebagai ajang aktualisasi bahwa mereka juga butuh dikenal dan dihormati oleh juniornya. Ruang aktualisasi diri melalui berbagai bentuk kegiatan menjadi wadah mempertemukan senior dengan maba.

Ospek harus membangun budaya argumentasi, bukan konfrontasi. Predikat senior-junior harus diganti dengan predikat kakak tingkat dan adik tingkat sebagai penerus. Menurut penulis, predikat senior yang dilekatkan pada mahasiswa justru akan mencitrakan  superioritas mahasiswa lama terhadap maba. Sedangkan predikat kakak dan adik bermakna menghormati yang tua dan menyayangi dan membimbing yang muda.

Limas Sutanto mengamati  dari perspektif psikodinamika bahwa praktik perpeloncoan, terutama yang keterlaluan, pada hakikatnya adalah ajang proyeksi impuls-impuls agresi, kekerasan, balas dendam, kebutuhan untuk menguasai, dan kebutuhan untuk disanjung yang bersarang di dalam jiwa sebagian murid senior dan sebagian pendidik. (kompas, 21/ 7/ 2003).

Untuk meminimalisir egoisme sektoral antar fakultas dapat dilakukan pada ospek tingkat universitas dengan melakukan internalisasi nilai-nilai kecintaan pada almamater. Salah satu kegiatannya adalah pamaparan visi dan misi universitas serta prestasi yang ditorehkan oleh civitas akademika sehingga tertanam di benak maba untuk menjadi bagian dari kebanggan universitas. Memang selama ini sudah ada ospek tingkat universitas, namun belum optimal.

Pada akhir ospek jurusan, maba dikembalikan ke tingkat universitas untuk mengintegrasikan kembali karakter setiap jurusan dan fakultas menjadi karakter universitas (university character building) sebagai tonggak awal memasuki perguruan tinggi, laboratorium pencerahan akal budi mahasiswa.

Menggagas format ospek yang lebih humanis memang menjadi tantangan seluruh civitas akademika. Pendekatan sistemik yang terintegrasi secara komprehensif perlahan akan memutus mata rantai kekerasan yang selama ini telah menjadi tradisi. Penindasan merupakan naluri untuk ditolak, kecuali bagi mereka yang ingin melanggengkan kekuasaan dengan cara kekerasan. Jangan sampai ospek hanya akan menjadi ajang pelestarian budaya feodal, menyuburkan budaya hipokritas (kemunafikan) nilai-nilai kemahasiswaan yang mendegradasi dunia akademis. Mengutip Mahatma Gandhi (1869-1948) “Kekerasan adalah senjata (orang/bangsa/manusia) yang jiwanya lemah. Kelemahan jiwa merupakan kelemahan sejati”.

*Penulis adalah Dewan Pendamping Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran Universitas Negeri Makassar

Download Lengkap: DISORIENTASI OSPEK


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: