Posted by: Hartoto | 09/24/2009

Generasi Instan, tidak menghargai Proses

Hartoto – Perkembangan peradaban telah memudahkan seluruh aktifitas manusia, bahkan mereka dapat melakukan berbagai aktifitas yang dulu sangat mustahil secara bersamaan tanpa harus berpindah tempat. Dengan teknologi batasan ruang, waktu, dan sumber daya tidak lagi menjadi masalah penting. Fungsi manusia lambat laun mulai digantikan dengan fungsi mesin. Manusia cenderung menginginkan segala sesuatunya dilakukan secara cepat, serba instan. Kebiasaan instan ini secara perlahan-lahan menjadi sebuah budaya yang saat ini sudah demikian kuat tertanam dan tumbuh pada generasi kita. Apakah sebenarnya generasi instan itu? Bagaimana dampak buruknya?

Generasi intsan dalam tulisan ini diterjemahkan secara bebas menjadi generasi yang selalu menginginkan sesuatu secara cepat, namun tidak tepat, cermat, dan menghargai proses. Generasi instan melakukan sesuatu tanpa perhitungan yang matang. Generasi instan sama sekali tidak melihat dari efektifitas dan efesiensi,karena yang dilihat hanya hasilnya.

Tanda-tanda kontaminasi budaya instan:
1. Hanya mengukur keberhasilan dari hasilnya, bukan dari prosesnya
2. Tidak ingin mempelajari sesuatu secara menyeluruh dan sering menggeneralisasikan sesuatu.
3. Membenci tahapan-tahapan dalam melakukan sesuatu.
4. Sangat antusias dengan instilah-istilah  CARA CEPAT, CARA KILAT,KONSEP PRAKTIS dan tidak pernah memikirkan bagaimana bisa cepat, kilat, dan praktis.
5. Malas mempelajari core ilmu dan hanya senang menggunakan hasil kerja/temuan orang lain

dan masih banyak ciri-ciri lain dari generasi instan yang belum disampaikan dalm tulisan ini. Intinya generasi instan adalah generasi yang konsumtif, menginginkan segala sesatunya secara cepat tanpa perhitungan dan tidak menghargai proses.


Responses

  1. Dari uraian di atas, “Generasi instant” itu berarti identik dengan penganut “mentalitas menerabas” seperti yang dikemukakan Bapak Anthropologi kita, Bapak Koentjaraningrat ya!

    “Generasi mie instant” identik atau setidaknya dekat dengan “rawan gizi” yang akan menghasilkan generasi yang “minim kecerdasan” yang pada gilirannya menghasilkan “minimnya kemampuan/kemauan berpikir dan bertindak”. Ujung-ujungnya lahirlah “generasi assembler”, itu lho seperti yang bapak bilang, comot sana comot sini lalu dengan lantang berteriak: “Ini hasil karya saya!”.

    Jadi, solusinya??????? Ya itu….. “mie instan”nya diganti dengan ikan, daging, susu dan atau telur serta bahan pangan lain yang kaya zat gizi terutama protein.

    Strateginya??????????? Pak SBY sudah pernah mencanangkannya: Revitalisasi Pertanian, Revitalisasi Perikanan, Revitalisasi Peternakan (yang ini kalau ndak salah lupa beliau sebutkan secara eksplisit). Kita tunggu aja setelah tgl 20 nanti apa di dalam kabinet beliau ada menteri yang memiliki kapasitas untuk menyusun “grand design”nya dan yang tak kalah penting memiliki keberpihakan kepada REVITALISASI “Peternakan Rakyat”.
    Semoga.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: