Posted by: Hartoto | 10/07/2008

Surat Terbuka Untuk Mahasiswa TekPend UNM

ANTARA KAU DAN AKU (Sebuah Refleksi)
Oleh: Hartoto *

Keyword: sumpah mahasiswa,idelisme, realita, tradisi

PROLOG
Di keluarga ini ada noktah hitam yang jika aku sendiri memikirkannya, akan sakit diri ini. Terlepas dari ikatan yang selalu membayangi ritinitas kehidupan liar kampus. Ada semacam tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Agent of change yang selama ini disuarakan diuji setiap tahunnya. Akhirnya, semuanya hanyalah isapan jempol belaka. Anjing menggonggong, khafilah berlalu. Bagaimana mungkin menginginkan perubahan, jika yang mnjalankannya adalah orang-orang yang terbuai dengan kejahilan masa lalu. Tidak perlu mempersalahkan keadaan dan berkuat di dalamnya. Ini akan menjadi masalah besar jika tetap saja tidak ada yang mau berkorban dan memulainya. Benang merah itu harus diputus mulai saat ini, dari diri kita.

SUMPAH MAHASISWA, MASIH HARUS DIUJI
Sebagian besar manusia akan lebih senang meniru perbuatan daripada perkataan. Seseorang haruslah seiya-sekata dalam perkataan dan tindakan. Jika tidak, pendustalah ia. Jangan mengajarkan arti kebebesan jikalau kita masih menindasnya. Jangan bahas keadilan jika kalian masih sering mendiskriminasi dan suka ‘atur damai’. Jangan teriakkan kebenaran, jika kalian masih menghalang-halangi dan mengancam mereka yang (sementara) kalian tindas, mencurang dan tidak memahami mana yang sebenarnya benar dan mana yang salah. Kritis bukanlah milik orang-orang yang lebih mengutamakan otot daripada otaknya (baca:akal), lebih mengutamakan ego daripada hatinya. Hari ini idealisme kita masih perlu diuji. Jangan mengajarkan sumpah mahasiwa sementara kita masih menginjak-injaknya. Idealisme adalah kesatuan ucapan dan tindakan, bukan salah satunya, atau tanpanya.

PEMBERDAYAAN YANG MEMPERDAYAKAN
Jumlah yang besar belum tentu kualitas yang besar. Tetapi jika peluang yang kita bicarakan,ini sudah pasti. Banyak potensi yang seharusnya dapat kita berdayakan masih terpendam dalam diri mereka yang selalu diperdaya dalam kebodohan. Jikalaupun ada yang kepermukaan, tidaklah tersalurkan, bahkan menguap tanpa meninggalkan jejak yang berarti. Sampai saat ini masih saja sering kita melakukan pembunuhan karakter dan kreatifitas mereka. Ternyata kita belum siap menjadi seorang kakak (yang baik). Ilmuilah, perlakuan pertama yang kita berikan kepada seseorang – itu seperti kita melakukan penginsatalan terhadap otak bawah sadar mereka. Dan (menurut penelitian) pengaruhnya akan bertahan hingga puluham tahun. Maukah kita yang menjadi penyebab kegagalan mereka di masa depan? Siapkah kita akan menanggung dosa karena perbuatan kita hanya larena alasan ingin dihormati? Itu bukan ingin dihormati, tapi gila hormat. Itu bukan bukan pembelajaran tapi pembodohan. Itu bukan latihan, tapi penjajahan. Bagaimanakah seandainya kita pada posisi mereka? Maukah kita diperlakukan seperti itu? Sungguh, dimana nurani kita? Apakah hati ini sudah beku, atau mungkin malah sudah mati.

SUDAH TRADISI
Jalan terbaik untuk keluar dari belenggu ini adalah memutus mata rantainya mulai sekarang. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk mewujudkan keluarga harmonis-edukatif. Orang lain telah sibuk dengan sawah mereka yang siap dipanen, mengapa kita masih sibuk mempersiapkan benih apa yang harus kita tanam. Manusia adalah makhluk dinamis yang akan selalu menginginkan perubahan (yang baik) pada dirinya. Perlu adanya sebuah sebuah keberanian (dan juga tindakan) untuk melakukan hal ini, juga pengorbanan. Kegiatan destruktif non edukatif harus dihentikan sekarang juga, sesuai peran dan tanggung jawab kita masing-masing. Mari kita berbenah diri, bersinergi untuk mencerahkan adi-adik kita yang sebagian masih kecewa bergabung di keluarga ini. sebagiannya bahkan telah ada yang berniat keluar dari keluarga ini. Janganlah kita menambah kekecewaannya dengan menggores luka di hati mereka, memendam harapan dan semangat mereka dalam ketakutan. Mari berikan mimpi indah bagi mereka. Stop Anarchie, start the jurney.

____________________________

* Hartoto, pebelajar Jurusan Kurikulum dan Teknoogi Pendidikan. Ditulis pada malam 20 Ramadhan di bumi Indonesia


Responses

  1. saya setuju klo anarchie itu di hentikan tapi sayang tidak ada yang mau….

    dan tidak ada yang mau sependapat dengan kita..
    ya jadi sussah deh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: