Posted by: Hartoto | 09/21/2008

Secangkir Kopi Hangat untuk SMADA

fatamorghana >> Secangkir Kopi Hangat untuk SMADA

Konsekuaensi adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah keputusan. demikian jualah pada pilihan kita untuk bersatatus siswa di sekolah yang dikenal dengan nama SMADA. Menjunjung tinggi almamater adalah konsekuensi logis yang harus dipikul oleh setiap anggota keluarga ini.

Smadais sejati bukanlah mereka-mereka yang hanya mampu ongkang-ongkang kaki, melenggang tanpa rasa salah melihat apa yang terjadi pada keluarganya, tidak terpanggil atau berpura-pura tuli padahal Smada membutuhkannya. Lebih parah lagi orang yang mengaku sebagai bagian dari keluarga ini tetapi pikiran dan tindakannya sama sekali tidak memihak kepentingan smada. Smadais sejati bukan hanya hak siswa dan alumni, tetapi juga guru, pegawai dan pemerhati smada dimana mereka mencurahan pikiran, waktu, dan tenaga mereka untuk kemajuan SMA Negeri 2 Makassar ini.

Smada bukanlah sekolah yang baru saja berdiri, bukan setahun dua tahun yang lalu, tetapi telah puluhan tahun. Alumninya pun telah tersebar di seluruh penjuru tanah air-hingga lintas negara bahkan benua. Mereka hidup dengan latar ekonomi dan sosial yang berbeda sesuai tempaan dan jalan hidup mereka masing-masing. Meskipun demikian, tetap ada dan akan terus ada kesamaan dalam diri-diri mereka yaitu kenangan akan keluarga ini, almamater ini, sebab dahulu mereka adalah anak smada.

Meskipun Roosevel mengatakan dalam pidatonya yang fenomenal:
“Bukan kritikus yang berjasa, bukan orang yang mengemukakan bagaimana orang kuat itu tersandung atau di mana sang pelaku perbuatan itu seharusnya bisa berbuat lebih baik. Yang berjasa adalah orang yang benar-benar terjun di arenanya, yang wajahnya kotor terkena debu dan keringat dan darah, yang berupaya dengan berani, yang berulang-ulang membuat kesalahan dan kekurangan, sebab tidak ada upaya tanpa kesalahan atau kekurangan, tetapi yang dengan antusias memberikan dedikasinya yang besar, yang mengerahkan kemampuannya demi perjuangan yang layak; yang kemungkinan ujung-ujungnya menang dan berprestasi atau, seandainya toh gagal, sedangkan gagal setelah berani mencoba, sehingga tempatnya tidak pernah bersama-sama jiwa-jiwa dingin dan pengecut yang tidak mengenal kemenangan atau pun kekalahan”

Bukan juga oleh pepatah:
“Lupa kacang akan kulitnya”

Tetapi oleh kesatuan komitmen untuk tetap membangun smada bagaimanapun kondisi dan dimanapun mereka berada. Diantara mereka ada yang matang secara ekonomi sehingga mereka dapat membantu smada dengan menyumbangkan materil. Diantara mereka ada yang menduduki jabatan strategis dalam intitusinya sehingga dapat mengutamakan kepentingan smada dari yang lainnya. Ada juga diantara mereka yang pas-pasan baik dari segi ekonomi maupun sosial, dan ini kebanyakan dari mereka. Mereka kemudian jangan dianak tirikan, tidak dipedulikan dan hanya dianggap sebagi produk gagal smada.

Salah…salah itu salah besar.
Mereka yang kebanyakan dari alumni-alumni muda itu dapat menyumbangkan tenaga dan ide-ide mereka. Adakah yang lebih baik dari ini? Ataukah ini hanya konseptual dan tidak dapat digunakan secara praktis.

Jika memang smada masih membutuhkan ide-ide itu, tentunya dia tidak akan membiarkan smadais-smadais itu untuk intern mereka sendiri. Tidak dapat dan atau sempat diungkapkan secara langsung atau bahkan pudar seiring berjalannya waktu. Sungguh sayang….

Dalam beberapa milis alumni, penulis mendapati banyak ide-ide brilian yang mereka ungkapkan dan jika ini direalisasikan tentunya akan sangat membantu smada. Tetapi kembali lagi pada permasalahan awal……pesan ini tidak sampai dengan tepat.

Diantara mereka mungkin ada yang hanya membutuhkan ruang untuk berdiskusi sehingga mereka membentuk forum-forum diskusi. Coba bayangkan seandainya tiap angkatan membuat sebuah forum tersendiri, maka dapat dibayangkan banyaknya forum yang ada. dan lebih banyak lagi pemikiran-pemikiran mereka tentang smada yang tidak terjangkau oleh smada sendiri. Seperti halnya tiram-tiram dilaut, butuh untuk dicari dan dikumpulkan, sehingga menghasilkan mutiara yang menawan dan berharga.

Jangan berpikir bagaimana ini dapat dilakukan. Yakin saja ini pasti bisa. Tinggal kemauan dan perhatian, juga loyalitas terhadap almamater ini. Dari manapun kita, dan bagaimanapun kita, ini sudah komitmen kita (terpaksa atau tidak) untuk bergabung di keluarga SMAN 2 Makassar ini. Sisihkan kepentingan-kepentingan lain dan atau diluar apalagi kepentingan pribadi, Berpikir sejenak, apa yang telah dan akan kita lakukan untuk kemajuan smada?

Jadilah smadais-smadais sejati. BUKAN FORMALITAS.

********************************************
Author    : Hartoto
Subject    : Secangkir Kopi Hangat Untuk SMADA
Email    : fatamorghana_02@yahoo.com
Blog    : https://fatamorghana.wordpress.com
********************************************


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: