Posted by: Hartoto | 03/20/2008

Penjara Itu Bernama Sekolah

Surving di internet, tidak sengaja penulis menemukan artikel yang sangat menarik di situs http://serambi.co.id. Artikel tersebut ditulis oleh Emmy Kuswandari yang sebenarnya merupakan sebuah resensi dari buku Summerhill School (Pendidikan Alternatif yang Membebaskan) karya Alexander Sutherland Neill. Buku tersebut menjelaskan tentang sistem pendidikan yang ‘semau gue’, sistem pendidikan tanpa pemaksaan, aturan, suapan norma dan moral, dan jenis-jenis aturan yang menurutnya merupakan sebuah kekangan.

“Sekolah yang didirikan Alexander Sutherland Neill pun membebaskan anak-anak untuk menentukan apa yang mereka mau. Mereka membuang jauh-jauh ketertiban, arahan, anjuran, pengajaran moral, dan pengajaran agama.”

“Di sekolah ini, anak-anak bebas memilih pelajaran yang akan mereka ikuti. Bahkan bagi anak yang baru masuk ke sekolah “sesukamu” itu, mereka bebas bermain sepanjang waktu, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.”

Benarkah demikian?
Ingatlah bahwa kebebasan yang kita miliki adalah kebebasan yang tidak tak terbatas alias kebebasan yang terbatas. Kebebasan yang tidak dibatasi akan melanggar kebebasan orang lain. Itulah perlunya norma dan aturan yang berfungsi untuk memperjelas batasan-batasan kebebasan seseorang. Tanpa norma dan aturan seseorang bisa saja berbuat sesuka hati, memukul, berteriak-teriak di tempat umum, dan yang semisal dengannya. Tidak seperti pendapat sebagian orang yang mengatakan “Badan badan saya sendiri,mulut mulut saya sendiri, jadi terserah saya”.

Sekolah merupakan salah satu tripusat pendidikan, jembatan antara lingkungan keluarga dan masyarakat. Sekolah adalah pembantu orang tua dalam mendidik, melatih, dan mengajar anak-anak mereka. Sekolah juga merupakan bentuk regenerasi budaya dari suatu generasi ke generasi berikutnya sehingga sekolah pasti akan membawa nilai-nilai budaya suatu bangsa.

Sekolah tidak hanya terdiri dari satu atau dua orang siswa saja, tetapi bisa ratusan bahkan ribuan. Kesemuanya memiliki watak dan perilaku yang berbeda-beda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula, itulah perlunya aturan baik yang sifatnya normatif atau bukan. Semuanya dimaksudkan untuk menjaga hak tiap-tiap individu dalam sekolah tersebut.

Alexander Sutherland Neill mungkin merupakan pengikut aliran nativisme sehingga ia berpandangan seperti itu. Benarkah pengajaran moral dan agama tidak diperlukan? Bagi penulis ini salah besar. Mana misi kebudayaan yang dibawa oleh sekolah? Kemana arah pendidikan yang ideal?

“Jika ada anak yang ketahuan mencuri, ia hanya diminta mengembalikan apa yang sudah diambilnya. Hukumannya pun ditentukan oleh anak-anak sendiri. Sekolah ini memang dikelola bersama, guru dan siswanya. Swakelola istilah mereka. Dari hukuman-hukuman ini, mereka sadar bahwa mencuri itu merugikan. “Mereka adalah para realis cilik. Mereka tidak akan mengatakan bahwa tuhan akan menghukum pencuri,” ujar Neill. Seminggu sekali mereka mengadakan rapat bersama untuk membahas semua kejadian dalam keseharian mereka. Hukuman, ketidaksetujuan, dan ide dibahas secara demokratis. Guru tidak campur tangan. Semuanya diselesaikan sendiri oleh anak-anak.”

Melihat realita pendidikan dewasa ini, ada benarnya juga sebagian pendapat Neil tentang pendidikan yang teralu mengekang. Lihat saja, banyak orang tua yang memaksakan anaknya untuk belajar di sekolah tertentu buka oleh keinginan dan pilihan anaknya sendiri. Anak akhirnya menjadi boneka mainanan, menjadi pribadi sulapan orang tuanya. Bukan menjadi dirinya sendiri. Akhirnya ia malas belajar di sekolah, mengerjakan tugas asal-asalan, dan perbuatan-perbuatan lain yang menjad sebab pembodohan tersistematis dalam dunia pendidikan.

Ada juga sekolah yang menerapkan aturan dengan sangat ketat dengan dalih untuk kemajuan sekolah tersebut dan ingin dikatakan sekolah disiplin maka ia harus mematikan kebebasan peserta didiknya. Penulis tidak mengatakan bahwa disiplin tidak perlu, bahkan sangat bagus jika sekolah menerapkan disiplin tinggi yang nantinya output-output yang dihasilkan juga berdedikasi tinggi. Tetapi menjadi persoalan adalah apakah aturan-aturan tersebut dibuat secara bersama-sama. Apakah siswa juga dilibatkan dalam pembuatan aturan-aturan tersebut. Jawabannya, sangat sedikit sekolah yang melakukan hal ini.

Salah satu pondasi pendidikan adalah asas psikologi dimana pendidian dilakukan dengan melihat kondisi dan jenjang psikologi seseorang. Lihatlah betapa terkekangnya mereka. Zaman yang sudah begitu berbeda tetapi mereka masih dijejali dengan aturan-aturan yang sama dengan zaman bapak-bapak mereka, atau bahkan aturan usang zaman kolonial. Ini tidak ubahnya seperti penjara.

Ya, sekolah menjadi sebuah penjara dan orang-orang tua sibuk memasukkan anaknya ke dalam penjara selama minimal 9 tahun.


Responses

  1. Salam kenal terlebih dahulu..

    Wah kalo seandainya sekolah gak punya aturan atau layaknya seperti Open School gitu… saya yakin lama-kelamaan pendidikan Indonesia bakal semakin bobrok. Sebab masa-masa sekolah ada masa pembentukan pribadi anak…

    • Itulah pentingnya mengedepankan pendidikan berbasis pengembangan karakter agar lebih bermakna


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: