Posted by: Hartoto | 03/20/2008

Menjelang UAN, banyak pihak mulai mencari kambing hitam

UAN merupakan salah satu alat ukur kualitas pendidikan. Meskipun demikian, banyak pihak masih menyangsikan kebsahannya. Salah satu sebabnya adalah karena UAN hanya mampu mewakili salah satu rana saja yaitu rana kognitif (pengetahuan), sedangkan dua rana lainnya yaitu psikomotorik dan afektif sama sekali tidak disentuh. Padahal lulus tidaknya siswa haruslah mewakili tiga rana tersebut diatas.

Sejak diberlakukannya UAN pada tahun 2003 melalui UU No 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional dan Kepmendiknas No 153/U/2003 , memang telah muncul desas desus tersebut. Banyak pihak yang keberatan terhadap standar kelulusan yang telah ditetapkan oleh pemerntah yang sebenarnya sangat jauh tertinggal dibanding negara-negara lain. Reaksi menjadi semakin keras dan gencar sejalan dengan naiknya standar kelulusan.

Jika dicermati, sebenarnya standar yang ditetapkan oleh pemerintah tidak perlu dipersoalkan. Toh materi yang diujikan telah tertuang dalam Standar Kompetensi yang ditetapkan pemerintah. Lagipula angka tersebut masih lebih rendah dari angka kelulusan yang ditetapkan oleh sekolah. Jadi dimana letak permasalahannya? Ada apakah dibalik ini semua? Ada apa dengan sekolah kita?

Kecaman yang paling serng dilontarkan adalah dari guru itu sendiri, kemungkinan guru-guru kita takut menghadapi kenyataan bahwa mata pelajaran yang diampunya banyak ditidaklulusi siswanya. Ini ketakutan yang berlebihan sehingga berdampak negatif pada sistem pembelajarannya yang seharusnya menanamkan pemahaman tetapi kemudian beralih pada pengajaran hapalan. materi pokok yang diajarkan bukan lagi yang ditetepakan oleh pemerintah, tapi soal-soal Ujian Akhir Nasional tahun-tahun sebelumnya.

Kepala sekolah juga cemas jikalau siswa-siswa di sekolah yang dipimpinnya banyak yang tidak lulus. Tentu saja pamor dan kepercayaan masyarakat akan turun bahkan mencederainya. Ini dapat berimbas pada nasib karir orang nomor satu di sekolah itu.

Kehawatiran yang paling berat dialami oleh siswa. Nasibnya akan terkatung-katung jika seandainya ia tidak lulus UAN. Bagaimana tidak enaknya menjadi salah satu diantara yang tidak lulus.APA KATA DUNIA?

Kecemasan-kecemasan ini dapat menimbulkan reaksi negatif terhadap Ujian Akhir Nasional. tingkat reaksi negatifnya disesuaikan dengan ketidaksiapannya menghadapi UAN dan berpuncak pada pengumuman ketidaklulusan UAN. Bahkan pernah penulis lihat siswa-siswa berdemonstrasi menentang diadakannya Ujian Akhir Nasional.

Mulai Mencari Kambing Hitam
Karena tidak ingin disalahkan, pihak-pihak yang tidak siap mulai mencari kambing hitam. Banyak cara yang bisa dilakukan. Orang tua mungkin menyalahkan sekolah tempat anaknya belajar. Guru menyalahkan siswanya yang malas belajar, menyalahkan alokasi waktu yang terlalu sempit untuk mengajarkan mata pelajaran yang diampunya. Kepala sekolah biasa menyalahkan guru-gurnya yang tidak becus mengajar, menyalahkan pemerintah yang tidak dapat menyediakan sarana prasaran yang memadai dan hanya meminta hasil yang sama dari semua sekolah dengan latar belakang yang berbeda. Bagaimanakah dengan siswa kita? Banyak pilhan yang dapat mereka jadikan kambing hitam, bisa saja sekolah karena tidak mempedulkan siswanya, kurang fasilitas pendukung. Bisa saja guru yang tidak membantu siswanya waktu ujian. Atau pemerintah yang memberlakukan UAN dengan alasan mematikan masa depan siswa, atau dengan alasan alat scaningnya rusak sehingga nlainya error dan masih banyak lagi alasan lain.

Santai saja
Selama ujian Nasional ini masih diberlakukan dan menjadi tolok ukur kelulusan, kitatetap akan menghadapinya. Jangan terlalu pesimis dan menyalahkan orang lain. Biarkan pemerintah dan pakar-pakar pendidikan kita yang mencari formula apa yang tepat untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa ini. Bukan saatnya sekarang bersikap antipati terhadap UAN. Marilah kita sambut UAN ini sebagai ajang ‘bergengsi’ untuk membuktkan siapa yang ‘unggul’ dan siapa yang hanya ‘diunggulkan’ dengan mempersiapkan bekal sebanyak mungkin sesuai posisi, tugas, dan tanggung jawab kita masing-masing. Dan akhirnya kita kembalikan keputusan final pada Allah, Dia-lah yang menentukan mana yang terbaik untuk hambanya, segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Selamat berjuang
Selamat datang UAN


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: